Selasa, 10 Juli 2012

Kisah Nabi Yusuf ‘alaihissalam dan Nabi Ya’qub ‘alaihissalam



penulis Al-Ustadz Abu Muhammad Harits Abrar Thalib
Syariah Ibrah 22 - Februari - 2007 17:10:29
Di antara ni’mat Allah Subhanahu wa Ta’ala yg diberikan kepada Nabi Yusuf ‘alaihissalam adl dua keutamaan: Kebaikan yg bersifat lahiriah dan batiniah. Secara lahiriah Nabi Yusuf ‘alaihissalam adl seorang pemuda yg sangat tampan dan secara batiniah beliau memiliki akhlak yg sangat mulia. Dengan dua hal ini Nabi Yusuf ‘alaihissalam senantiasa bersabar ketika menjalani ujian-ujian yg diberikan Allah Subhanahu wa Ta’ala termasuk ketika digoda oleh wanita cantik dari kalangan bangsawan.
Kisah ini adl kisah paling menakjubkan. Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan secara lengkap dan memaparkan dlm satu surat khusus secara terperinci dan jelas. Membaca surat ini saja sudah cukup sehingga tdk butuh penafsiran. Dan dlm surat ini Allah Subhanahu wa Ta’ala menguraikan keadaan Nabi Yusuf ‘alaihissalam mulai dari awal hingga akhir kisah. Lengkap dgn peralihan tempat kejadian pergantian situasi dan keadaan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
لَقَدْ كَانَ فِي يُوْسُفَ وَإِخْوَتِهِ آيَاتٌ لِلسَّائِلِيْنَ
“Sesungguh ada beberapa tanda kekuasaan Allah pada Yusuf dan saudara-saudara bagi orang2 yg bertanya.”
Akan kami sebutkan beberapa faedah penting yg disimpulkan dari sejarah besar ini. Dengan memohon pertolongan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala kami memulainya.
Beberapa Pelajaran Penting dari Kisah Nabi Yusuf ‘alaihissalam
Kisah ini merupakan kisah yg paling baik dan jelas. Di dlm dipaparkan berbagai peralihan dari suatu keadaan kepada keadaan lainnya; dari satu ujian ke ujian berikut dan dari sebuah ujian kepada karunia yg besar dari kehinaan kepada derajat kemuliaan dari rasa aman kepada rasa takut dan sebalik dan seterusnya. Maha Suci Allah yg telah menceritakan hal ini dan menjadikan sebagai pelajaran berharga bagi mereka yg bisa menggunakan akalnya. Di antara pelajaran tersebut adalah:
1. Diterangkan dlm kisah ini berbagai landasan pokok tentang ta’bir atau tafsir mimpi. Ilmu ta’bir mimpi ini adl ilmu yg cukup penting yg diberikan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada siapa yg dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya. Dan umum hal-hal yg berkaitan serta dijadikan permisalan dan penyerupaan adl tentang sifat atau keadaan.
Dengan demikian mk sisi keterkaitan mimpi Nabi Yusuf ‘alaihissalam di mana beliau melihat matahari bulan dan sebelas bintang bersujud kepada adl sebagai berikut: Semua ini adl benda-benda yg menghiasi langit yg mempunyai berbagai manfaat. Begitu pula hal para nabi ulama orang2 pilihan mereka adl perhiasan di muka bumi. Dengan perantaraan mereka seseorang akan terbimbing dlm kehidupan di bumi sebagaimana dia terbimbing pula dgn cahaya dari langit .
Ayah dan ibu adl sumber sedangkan saudara-saudara adl cabang . mk sangat sesuai jika bentuk dan cahaya asal atau sumber lbh besar daripada cabang. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa matahari atau bulan adl permisalan bagi ayah atau ibunya. Bintang-bintang menggambarkan saudara-saudaranya. Dan menyangkut hal ini bahwa orang yg bersujud menunjukkan penghormatan kepada yg dia sujudi. Dan yg menerima sujud ini dia diagungkan lagi dihormati. Hal ini menunjukkan bahwa Nabi Yusuf ‘alaihissalam menjadi seorang yg diagungkan dan dihormati oleh kedua ibu bapak serta saudara-saudaranya.
Namun hal ini tdk akan sempurna kecuali dgn beberapa pendahuluan yg menggiring kepada semua perkara ini. Di antara adl ilmu dan amalan serta sebagai pilihan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebab itulah Allah Subhanahu wa Ta’ala mengatakan:
وَكَذلِكَ يَجْتَبِيْكَ رَبُّكَ
“Dan demikianlah Rabbmu telah memilihmu.”
Terkait dgn mimpi kedua pemuda yg dipenjara bersama Nabi Yusuf ‘alaihissalam beliau menta’birkan mimpi seorang di antara mereka yg memeras anggur. Dan ini menunjukkan bahwa orang yg melakukan pekerjaan ini biasa adl pelayan bagi orang lain. Juga kenyataan bahwa perasan anggur itu utk orang lain sedangkan pelayan biasa mengikuti yg dilayani. Atau dapat pula ditakwilkan memeras anggur di sini dgn memberi minum yg juga menunjukkan pelaku adl pelayan bagi orang lain. Oleh sebab itulah beliau menakwilkan kepada hal yg sesuai.
Adapun mimpi orang yg melihat diri membawa roti di atas kepala dan sebagian dimakan oleh burung beliau menakwilkan bahwa dia akan dibunuh dan disalib sehingga burung memakan otaknya.
Lalu beliau menafsirkan mimpi Raja Mesir yg melihat beberapa ekor sapi dan butir-butir gandum sebagai masa-masa subur dan paceklik. Hubungan adl bahwa melalui raja itulah terikat segala persoalan kemaslahatan rakyat. Apabila raja baik mk baik pula urusan rakyat dan apabila raja buruk urusan rakyat juga akan rusak. Inilah hubungan ketika dia melihat mimpi itu.
Apalagi tahun-tahun kesuburan dan paceklik terkait dgn keteraturan kehidupan atau tidaknya. Sapi termasuk alat utk membajak tanah dan mengolah pertanian. Di sini terlihat ada sebab dan akibat. dlm mimpi itu terlihat pula 7 ekor sapi gemuk dan 7 ekor sapi kurus 7 tangkai gandum yg hijau dan 7 tangkai yg kering. Maksud tentu akan ada 7 tahun yg subur yg disusul 7 tahun kekeringan. Apa yg didapatkan dari pertanian diambil dan tdk disisakan kecuali sedikit yg mereka simpan.
Kalau dikatakan darimana diambil pengertian ayat:
ثُمَّ يَأْتِي مِنْ بَعْدِ ذلِكَ عَامٌ فِيْهِ يُغَاثُ النَّاسُ وَفِيْهِ يَعْصِرُوْنَ
“Kemudian setelah itu akan datang tahun yg pada manusia diberi hujan dan di masa itu mereka memeras anggur.”
Karena beberapa ahli tafsir mengatakan bahwa ini adl tambahan dari Nabi Yusuf ‘alaihissalam dlm menerangkan takwil mimpi menurut wahyu yg diterimanya?
Jawabnya: Persoalan tidaklah demikian. Sesungguh perkataan tersebut juga diucapkan berdasarkan mimpi raja itu. Karena masa-masa kekeringan hanya 7 tahun. Ini menunjukkan akan datang sesudah tahun-tahun kesuburan penuh keberkahan yg akan menghapus kekeringan yg terjadi pada masa paceklik yg tdk dapat terhapus oleh masa-masa subur yg biasa. Namun hanya akan hilang dgn masa subur yg luar biasa keadaannya. Ini sangat jelas dan termasuk mafhum al-’adad .
2. Di dlm terdapat dalil atau bukti tentang kenabian Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yaitu dgn diceritakan sejarah ini secara terperinci dan panjang lebar kepada beliau sesuai kenyataan yg mempunyai maksud dan tujuan yg jelas. Padahal beliau tdk membaca kitab orang2 terdahulu. Bahkan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam tdk pernah belajar kepada seorangpun sebagaimana yg jelas diketahui oleh kaumnya. Beliau sendiri adl seorang ummi tdk pandai membaca dan menulis. Sebab itulah Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
ذلِكَ مِنْ أَنْبَاءِ الْغَيْبِ نُوْحِيْهِ إِلَيْكَ وَمَا كُنْتَ لَدَيْهِمْ إِذْ أَجْمَعُوا أَمْرَهُمْ وَهُمْ يَمْكُرُوْنَ
“Demikian itu di antara berita ghaib yg Kami wahyukan kepadamu padahal kamu tdk berada di sisi mereka ketika mereka memutuskan rencana dan mengatur tipu daya.”
3. Sepantas seorang manusia menjauhi faktor-faktor atau jalan yg mendorong kepada kejahatan. Dan hendak dia menyembunyikan hal-hal yg dikhawatirkan menimbulkan kemudaratan bagi dirinya. Sebagaimana perkataan Nabi Ya’qub kepada Yusuf dlm kisah ini:
لاَ تَقْصُصْ رُؤْيَاكَ عَلَى إِخْوَتِكَ فَيَكِيْدُوا لَكَ كَيْدًا
“Janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu mk mereka akan membuat makar terhadapmu.”
4. Boleh menerangkan sesuatu yg tdk menyenangkan kepada seseorang dgn jujur dan sebagai nasehat bagi diri dan orang lain yg terkait. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang ucapan Nabi Ya’qub:
فَيَكِيْدُوا لَكَ كَيْدًا
“Maka mereka akan membuat makar terhadapmu.”
5. Bahwa keni’matan yg diberikan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada seseorang adl ni’mat pula bagi orang2 yg berkaitan atau berhubungan dengan baik keluarga kerabat ataupun sahabat-sahabatnya. Tentu semua itu mencakup atau meliputi mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَيُتِمُّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ وَعَلَى آلِ يَعْقُوْبَ
“Dan disempurnakan-Nya ni’mat-Nya kepadamu dan kepada keluarga Ya’qub.”
Yaitu dgn semua yg engkau terima. Oleh krn itu ketika ni’mat itu semakin sempuna dirasakan oleh Nabi Yusuf keluarga Nabi Ya’qub juga mendapatkan kemuliaan kekuasaan dan kegembiraan. Hilanglah hal-hal yg tdk menyenangkan yg selama ini mereka rasakan dgn muncul hal-hal yg menyenangkan sebagaimana disebutkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di akhir kisah ini.
6. Nikmat paling besar yg dianugerahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada manusia adl ni’mat diniyah . Dan semua itu harus ada sebab-sebab yg mendahului serta jalan-jalan yg membawa kepada keni’matan ini. Karena sesungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala –Yang Maha Memiliki hikmah dan mempunyai sunnah yg tdk berubah– telah menetapkan bahwa cita-cita yg tinggi tdk mungkin tercapai kecuali dgn sebab yg bermanfaat. Khusus dlm hal ini adl ilmu bermanfaat berikut cabang-cabang seperti akhlak dan perbuatan. Oleh krn itulah Nabi Ya’qub mengetahui bahwa Yusuf telah mencapai kedudukan yg mulia ini di mana ayah ibu serta saudara-saudara tunduk hormat kepadanya. Semua ini sudah tentu dgn kemudahan yg Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepada Nabi Yusuf utk menempuh sebab atau jalan menuju derajat yg tinggi ini. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
وَكَذلِكَ يَجْتَبِيْكَ رَبُّكَ وَيُعَلِّمُكَ مِنْ تَأْوِيْلِ اْلأَحَادِيْثِ وَيُتِمُّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ
“Dan demikianlah Rabbmu telah memilih kamu dan mengajarkan kepadamu sebagian takwil mimpi dan menyempurnakan ni’mat-Nya kepadamu.”
7. Sikap adil adl perkara yg sangat dituntut dlm tiap permasalahan. dlm masalah hubungan penguasa dan rakyat kedua orang tua dgn anak-anak hak-hak para isteri dan lain-lain yg juga berkaitan dgn hubungan kasih sayang dan itsar . Menegakkan keadilan dlm tiap permasalahan ini akan berbuah keserasian semua persoalan besar dan kecil sekaligus akan mendatangkan segala sesuatu yg disenangi.
Sebalik apabila keadilan itu tdk ada jelas akan menyebabkan kerusakan dan hal-hal yg tdk menyenangkan tanpa terasa. Karena itulah ketika Nabi Ya’qub ‘alaihissalam melebihkan rasa kasih sayang terhadap Yusuf menimbulkan ketidaksenangan pada saudara-saudara Yusuf terhadap ayah dan saudara mereka ini.
8. Peringatan keras tentang bahaya dosa. Betapa banyak dosa yg melahirkan dosa-dosa berikutnya. Perhatikan kejahatan yg dilakukan oleh saudara-saudara Yusuf. Mereka ingin memisahkan Yusuf dari ayah dan ini adl suatu kejahatan. Kemudian mereka melancarkan berbagai muslihat. Mereka berdusta hingga beberapa kali misal dgn menunjukkan baju Nabi Yusuf yg berlumur darah palsu kepada Ya’qub. Juga ketika mereka pulang sore hari sambil menangis. Jelas bahwa ucapan-ucapan yg terdapat dlm kasus ini berantai dan berbelit-belit.
Bahkan tdk jarang hal ini berlanjut ketika mereka berkumpul dgn Yusuf dan tiap kali membahas masalah ini. Namun semua adl dusta dan palsu dgn musibah yg terus menimpa Nabi Ya’qub serta Nabi Yusuf. mk hendaklah seorang manusia berhati-hati dari perbuatan dosa terutama dosa yg datang susul menyusul.
Lawan dari ini semua adl sebagian ketaatan yg merupakan satu ketaatan akan tetapi manfaat berkelanjutan. Demikian pula berkahnya. Bahkan semua ini dapat dirasakan tdk hanya oleh pelaku tapi juga oleh orang lain. Semua ini merupakan pengaruh paling besar dari berkah yg Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepada seseorang baik dlm ilmu dan amalannya.
9. Pelajaran berharga bagi seorang hamba bergantung kepada kesempurnaan di akhir perjalanan bukan pada kekurangan yg ada di awalnya. Begitu pula hal anak-anak Nabi Ya’qub ‘alaihissalam. Terjadi berbagai kekeliruan di awal kisah kehidupan mereka. Kemudian semua itu berujung pada taubat nashuha pengakuan yg tulus dan pemaafan yg sempurna dari Yusuf dan ayah mereka serta doa kebaikan dan ampunan serta rahmat bagi mereka. Kalau seorang manusia telah memberikan keringanan atau memaafkan seseorang berkaitan dgn suatu hak tertentu mk Allah Subhanahu wa Ta’ala lbh berhak berbuat demikian. Dan Dia adl Sebaik-baik Yang Penyayang lagi Maha Pengampun.
Oleh krn itulah yg paling benar dari semua pendapat yg ada bahwa sesungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjadikan mereka sebagai nabi dgn menghapus semua kekeliruan yg telah mereka lakukan. Seakan-akan pernyataan ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
وَمَا أُنْزِلَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَإِسْمَاعِيْلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوْبَ وَاْلأَسْبَاطِ
“Dan pula dgn apa yg diturunkan kepada Ibrahim Isma’il Ishaq Ya’qub dan al-asbath.”
Al-Asbath adl anak-anak Ya’qub yg duabelas orang dan anak cucu mereka. Pendapat ini diperkuat dgn mimpi yg dilihat Nabi Yusuf bahwa mereka adl bintang-bintang yg mempunyai cahaya dan petunjuk. Semua ini adl sifat-sifat yg juga terdapat pada diri para nabi. Seandai mereka bukan tergolong nabi mereka adl para ulama di kalangan hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala.
10. dlm kisah ini diterangkan betapa besar anugerah yg Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepada Yusuf berupa ilmu hilm akhlak yg mulia berdakwah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kepada agama-Nya. Juga pemberian maaf yg segera dilakukan terhadap saudara-saudara yg bersalah. Hal itu semakin lengkap ketika beliau mengatakan bahwa tdk ada cercaan atas mereka sesudah pemaafan ini. Kemudian kebajikan yg besar kepada kedua ibu bapak limpahan kebaikan kepada saudara-saudara serta makhluk Allah Subhanahu wa Ta’ala pada umumnya. Semua ini sangat jelas tergambar dlm sejarah hidup Nabi Yusuf ‘alaihissalam.
11. Sebagian kejahatan lbh ringan dari yg lain. Menempuh suatu kemudaratan yg lbh ringan dari dua mudarat yg ada jelas lbh utama. mk tatkala saudara-saudara Nabi Yusuf mengatakan :
اقْتُلُوا يُوْسُفَ أَوِ اطْرَحُوهُ أَرْضًا
“Bunuhlah Yusuf atau buanglah dia ke suatu daerah.”
Lalu ada yg memberikan saran :
لاَ تَقْتُلُوا يُوْسُفَ وَأَلْقُوْهُ فِي غَيَابَةِ الْجُبِّ يَلْتَقِطْهُ بَعْضُ السَّيَّارَةِ إِنْ كُنْتُمْ فَاعِلِيْنَ
“Janganlah kamu bunuh Yusuf tetapi lemparkanlah dia ke dasar sumur supaya dipungut oleh sebagian musafir kalau kamu hendak berbuat.”
Tentu perkataan ini lbh baik dari pendapat yg lain dan lbh ringan. Sehingga berdasarkan hal ini pula menjadi ringan pula dosa mereka. Ini merupakan sebagian dari sebab atau jalan yg telah Allah Subhanahu wa Ta’ala takdirkan bagi Nabi Yusuf utk mencapai derajat yg diinginkan.
12. Segala sesuatu yg diperoleh dari suatu usaha dan menjadi bagian dari harta namun orang2 yg mengusahakan tdk mengetahui bahwa itu tdk dilandasi syariat mk tdk ada dosa bagi yg langsung memperjualbelikan memanfaatkan atau menggunakan utk suatu kepentingan. dlm kisah ini boleh dikatakan Nabi Yusuf dijual oleh saudara-saudara dgn cara yg diharamkan bagi mereka. Kemudian beliau dibeli oleh sebagian musafir berdasarkan anggapan bahwa beliau adl budak saudara-saudaranya. Setelah itu mereka membawa ke Mesir dan menjual kembali.
Tinggallah beliau bersama majikan sebagai seoang pelayan atau budak. Namun di tengah-tengah mereka Nabi Yusuf adl seorang pelayan yg dihormati. Allah Subhanahu wa Ta’ala menamakan jual beli yg dilakukan musafir itu muamalah dgn alasan yg telah kami paparkan.
13. dlm kisah ini disebutkan bahaya berkhalwat dgn wanita ajnabiyah khusus wanita-wanita yg dikhawatirkan akan menjerumuskan kepada fitnah. Juga anjuran agar menjauhi perasaan cinta atau suka yg dapat menimbulkan mudarat.
Dalam kisah ini disebutkan bagaimana isteri pembesar tersebut mengalami hal ini krn sendirian bersama Yusuf ditambah lagi rasa cinta yg demikian hebat sehingga akhir dia menggoda Yusuf dgn cara sedemikian rupa. Akan tetapi kemudian dia justru mengingkari bahwa dialah yg merayu Nabi Yusuf sehingga akhir Nabi Yusuf dipenjara utk waktu yg lama.
14. Keinginan yg ada dlm diri Nabi Yusuf yg kemudian beliau tinggalkan krn Allah Subhanahu wa Ta’ala dan krn bukti keimanan yg Allah Subhanahu wa Ta’ala letakkan dlm hati termasuk hal-hal yg menaikkan derajat beliau semakin dekat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena suatu keinginan adl salah satu faktor pendorong yg timbul dari hawa nafsu yg selalu menyuruh kepada kejahatan. Ini adl naluri atau tabiat yg ada pada anak Adam .
Maka apabila keinginan itu terlaksana dgn kemaksiatan dan tdk ada sesuatu baik keimanan ataupun rasa takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yg menghalangi dari kemaksiatan itu mk dia telah terjatuh kepada dosa. Dan jika seseorang itu beriman sempurna mk keinginan naluriah ini apabila dihadapi oleh iman yg benar dan kuat akan mencegah dari pengaruh yg ditimbulkan oleh keinginan tersebut meskipun dorongan itu demikian hebat. Dan Nabi Yusuf ‘alaihissalam berada di atas tingkatan ini. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
لَوْلاَ أَنْ رَأَى بُرْهَانَ رَبِّهِ
“Andaikata dia tdk melihat tanda dari Rabbnya.”
Hal ini ditunjukkan pula dlm ayat:
كَذلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوْءَ وَالْفَحْشَاءَ إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِيْنَ
“Demikianlah agar Kami memalingkan daripada kemungkaran dan kekejian. Sesungguh Yusuf termasuk hamba-hamba Kami yg terpilih.”
Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala mengistimewakan dan kekuatan iman serta keikhlasan Allah Subhanahu wa Ta’ala melepaskan beliau agar tdk terjerumus kepada perbuatan dosa. Jelas dari kisah ini bahwa Nabi Yusuf adl termasuk segelintir manusia yg takut kepada kebesaran Rabb dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya. Beliau termasuk yg paling tinggi derajat di antara 7 golongan dari orang2 yg Allah Subhanahu wa Ta’ala lindungi dgn naungan-Nya pada hari yg tdk ada lagi naungan selain naungan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyebutkan dlm sabda beliau bahwa salah satu dari tujuh golongan itu adl seorang laki2 yg dirayu oleh seorang wanita kaya dan cantik jelita namun laki2 itu berkata: “Sesungguh aku takut kepada Allah.”1
Sementara keinginan wanita itu yg tdk ada yg menghalangi tetap mendorong utk merayu Nabi Yusuf. Adapun keinginan yg muncul pada Nabi Yusuf kemudian lenyap dgn seketika setelah melihat burhan dari Rabbnya.
15. Keimanan yg telah tertanam dlm kalbu seseorang kemudian hati itu diterangi cahaya ma’rifat dan iman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala menunjukkan bahwa dia adl seorang yg ikhlas krn Allah Subhanahu wa Ta’ala dlm segenap keadaannya. Allah Subhanahu wa Ta’alaakan menjauhkan dari tiap kejahatan dan kekejian dgn tanda keimanan itu. Bahkan juga menjauhkan dari berbagai jalan kemaksiatan sebagai balasan keimanan dan keikhlasannya. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyebutkan bahwa hal-hal inilah yg menjadi alasan Dia menjauhkan kejelekan dan kekejian itu dari Nabi Yusuf. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
كَذلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوْءَ وَالْفَحْشَاءَ إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلِصِيْنَ
“Sesungguh Yusuf termasuk hamba-hamba Kami yg mukhlis .”
Arti seperti ini apabila disandarkan kepada bacaan yg melafadzkan bunyi lam pada kata mukhlas dikasrah sehingga dibaca mukhlis yg arti sebagaimana yg tercantum. Sedangkan menurut bacaan yg melafalkan lam dgn bunyi a tadi arti ialah apabila seorang hamba yg telah Allah Subhanahu wa Ta’ala bersihkan dan Allah Subhanahu wa Ta’ala pilih mk tentulah dia seorang yg mukhlis dgn demikian kedua pengertian ini saling berkaitan.
16. Apabila seseorang diuji dgn berada di tempat yg mengandung fitnah dan jalan yg membawa kepada kemaksiatan hendak dia segera berupaya menghindar dan meninggalkan tempat itu semampunya agar selamat dari kejahatan tersebut. Sebagaimana telah dicontohkan oleh Nabi Yusuf yg menyelamatkan diri menuju pintu keluar sementara wanita itu berusaha menarik baju dari belakang.
17. Suatu qarinah atau hal-hal yg mendukung dapat digunakan ketika terjadi kesamaran dlm suatu tuduhan. Arti perlu saksi dlm menentukan suatu keputusan dari suatu kasus di mana dlm kasus Nabi Yusuf ini ditetapkan dgn ada qarinah . Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
إِنْ كَانَ قَمِيْصُهُ قُدَّ مِنْ قُبُلٍ فَصَدَقَتْ وَهُوَ مِنَ الْكَاذِبِيْنَ. وَإِنْ كَانَ قَمِيْصُهُ قُدَّ مِنْ دُبُرٍ فَكَذَبَتْ وَهُوَ مِنَ الصَّادِقِيْنَ
“Jika baju koyak di muka mk wanita itu benar dan Yusuf termasuk orang2 yg dusta. Dan jika baju koyak di belakang mk wanita itulah yg dusta dan Yusuf termasuk orang2 yg benar.”
Akhir keputusan sesuai dgn fakta yg benar. Juga qarinah terdapat piala raja di dlm karung saudara ketika para penjaga itu menyebutkan bahwa mereka kehilangan piala raja.
17. dlm kisah disebutkan tentang ketampanan lahir batin yg dimiliki Nabi Yusuf. Dari ketampanan lahiriah yg dimiliki menyebabkan tumbuh rasa cinta begitu hebat dlm diri wanita bangsawan itu. Dan ketika dia mendengar para wanita di kota itu mencela dia mengundang mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
فَلَمَّا سَمِعَتْ بِمَكْرِهِنَّ أَرْسَلَتْ إِلَيْهِنَّ وَأَعْتَدَتْ لَهُنَّ مُتَّكَأً وَآتَتْ كُلَّ وَاحِدَةٍ مِنْهُنَّ سِكِّيْنًا وَقَالَتِ اخْرُجْ عَلَيْهِنَّ فَلَمَّا رَأَيْنَهُ أَكْبَرْنَهُ وَقَطَّعْنَ أَيْدِيَهُنَّ وَقُلْنَ حَاشَ لِلّهِ مَا هَذَا بَشَرًا إِنْ هَذَا إِلاَّ مَلَكٌ كَرِيْمٌ
“Maka tatkala wanita itu mendengar cercaan mereka diundangnyalah wanita-wanita itu dan disediakan bagi mereka tempat duduk dan diberikan kepada masing-masing mereka sebuah pisau lalu dia berkata : ”Keluarlah kepada mereka!” Tatkala para wanita itu melihat mereka kagum akan dan mereka mengiris jari mereka dan berkata: “Maha Suci Allah. Ini bukanlah manusia. Sesungguh ini tdk lain adl malaikat yg mulia.”
Sedangkan keindahan batin beliau terlihat dari sikap ‘iffah yg besar pada diri beliau seiring dgn ada dorongan yg kuat utk terjerumus kepada kemaksiatan. Akan tetapi cahaya keimanan dan kekuatan keikhlasan yg tdk mungkin seorang mulia menyimpang dari kedua dan tdk mungkin terkumpul pada orang yg hina .
Bahkan telah dijelaskan pula oleh isteri pembesar itu bahwa dua karakter ini ada pada diri Nabi Yusuf. Yakni ketika dia memperlihatkan kepada para wanita itu kecantikan lahiriah yg diakui pula oleh mereka bahwa kecantikan ini tdk mungkin ada pada manusia isteri pembesar itu berkata sebagaimana yg Allah Subhanahu wa Ta’ala sebutkan dlm ayat:
وَلَقَدْ رَاوَدْتُهُ عَنْ نَفْسِهِ فَاسْتَعْصَمَ
“Dan sesungguh aku telah menggoda dia utk menundukkan diri kepadaku tapi dia menolak.”
Kemudian dia mengatakan pula sesudah perkataan itu:
اْلآنَ حَصْحَصَ الْحَقُّ أَنَا رَاوَدْتُهُ عَنْ نَفْسِهِ وَإِنَّهُ لَمِنَ الصَّادِقِيْنَ
“Sekarang jelaslah kebenaran itu akulah yg menggoda utk menundukkan diri kepadaku dan sesungguh dia termasuk orang2 yg benar.”
18. Nabi Yusuf ‘alaihissalam lbh memilih dipenjara daripada terjerumus kepada kemaksiatan. Demikianlah seharus ketika seseorang dihadapkan kepada satu dari dua pilihan; jatuh kepada kemaksiatan atau menerima hukuman dunia. Seharus dia memilih hukuman duniawi yg justru di balik itu terdapat pahala dari beberapa sisi pahala atas pilihan terhadap keimanan daripada keselamatan dari hukuman dunia pahala dari segi bahwa hal ini adl bentuk penyucian dan pemurnian seorang mukmin di mana hal ini termasuk dlm kerangka jihad di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Juga pahala dari sisi musibah yg diterima serta sakit yg dirasakannya.
Maha Suci Allah yg memberikan keni’matan dan menunjukkan kelembutan-Nya kepada hamba-hamba pilihan-Nya melalui cobaan atau ujian-Nya. Hal ini juga merupakan tanda-tanda keimanan dan kebahagiaan.
1 HR. Al-Bukhari dari Abu Hurairah dlm Shahih- no. 620 1334 6308.
Sumber: www.asysyariah.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

SILAHKAN BERKOMENTAR=--

Berikan Saran Dan Pendapat Sobat, Syukur - Syukur sobat mau menjadi FOLLOWERS blog ini, HEHEHEHEEE...
Saya Mohon Maaf Bila Dalam Penulisan Artikel Diatas Ada Kalimat atau Kata Yang Salah.. (<> , <>)

JANGAN BERKOMENTAR SPAM .!!!!

TERIMAH KASIH